Selasa, 20 Januari 2009

Plezetan Archieve

Juhri The Jambreter (Original)

Seperti hari biasanya, Juhri seorang penjambret kelas Teri, selalu mencari mangsa sasaran empuk kejahatannya.
seperti biasannya si juhri yang akrab di panggil Jhon oleh teman-temannya sedang mengincar ibu-ibu yang sedang membawa barang berharga di dalam tas atau kantung-kantung belanja ibu-ibu.

Juhri : “wah kayanya hari ini incaran pada sepi nie…”

Kebetulan hari itu juhri tidak sendiri menjalankan misi penjambretannya, kali ini juhri ditemani oleh Zuki, yah boleh di bilang si Zuki ini asistennya si Juhri.

Zuki : “iya nie jhon, mana gue lagi perlu uang nie….”

Juhri : “ya iyalah sapa yang nga butuh uang”

Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu membawa keresek agak besar,yang keluar dari sebuah pasar, ya daerah situ memang sering dijadikan tempat mereka beraksi.

Zuki : “Jhon….jhon liat jhon itu ada mangsa”

Juhri : “santap cing…….”

Mereka berdua pun siap-siap untuk mengambil ancang-ancang buat menyantap barang bawaan ibu-ibu tadi.

Juhri : “siap …siap cing!”

Zuki : “oke boss….sikat boss..”

Ketika itu ibu-ibu itu tampak santai sedang menenteng barang bawaannya.

Juhri : “kalo gue udah dapat tuh Barang, langsung tancap abis bro”

Zuki : “Iyaw ….”

Brakk……!!!! Juhri langsung merampas barang bawaan ibu tadi, namun Ibu tadi tampaknya bengong…., tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Juhri : “sukses… cing….”

Zuki : “wahahahahaha siip Bos…”

Ibu-ibu tadi yang dirampas barang bawaannya tadi masih saja terdiam, sambil melihat kearah Motor yang dikebut oleh para penjambret itu, sampai para penjambret itu menghilang di kejauhan.

Juhri : “cing cari tempat aman buat ngecek hasil pancingan kita acing”

Zuki : “siipp bos, tempat biasa nya?”

Juhri : “Iyaw!”

Mereka pun berdua mencari tempat aman, untuk mencek hasil jambretan mereka.

Juhri : “walah buset…apaan ini!”

Zuki : “Besar ya bos, tangkapan kali ini”

Juhri pun menatap wajah Zuki tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dan menunjukan kantong kresek yang mereka dapatkan tadi.

Juhri : “nie liat…”

Zuki : “waduh boss….”

Ternyata kantong kresek besar yang mereka rampas tadi, ternyata berisikan sampah semua……….

Setidak-tidaknya mereka berdua telah berbuat amal, karna telah meringankan tugas ibu tadi untuk membuang sampah pada tempatnya….., (Thanks Buat Juhri and Zuki)


Plezetan Original

Label:

Rabu, 14 Januari 2009

Istana dan Roti (original)

Tibanya liburan sekolah sudah pasti dijadikan ajang buat bertamasya bagi zaka dan zaki, mereka kakak beradik yang terlahir dari keluarga kaya.

“Ayah kami mau liburan ke Bali yah” ucap zaka dan zaki, “ah iya gampang, cuman ke bali doank, mau ke Francis, Belanda, Jerman, ke surga pun Bapa kasih wahahaha” ayah zaka dan zaki sambil bercanda kepada mereka berdua.

“Tapi benar kan yah kita pergi ke Bali?” , “iya kita pasti pergi berlibur ke Bali” jawab sang ayah.

Setelah dua hari mereka pun berangkat sekeluarga pergi ke Bali, mereka sampai di Bali sekitar jam 12 siang, setelah sampai disana mereka beristirahat sebentar, dan kira-kira jam 3 sore mereka pergi untuk bermain kepantai.

Mereka meliat seorang anak yang berpakaian compang camping sedang bermain pasir, dan agaknya sedang membentuk sesuatu “zaki yuk kita main juga, kita bikin istana dari pasir” ajak zaka kepada zaki “yuk kita main”.

“Hore…istana kita udah jadi……” sorak zaka dan zaki, kemudian mereka berdua melihat ke arah anak yang berpakaian compang camping tadi, “dari tadi istana kamu kok nga jadi-jadi?” , “Aku memang tidak membuat istana” jawab anak miskin tadi, sambil meratapi sesuatu yang dia bentuk dari gundukan pasir itu.

“terus apa yang kamu buat?” zaka menanyakan pada anak miskin tadi, “Aku sedang membuat sepotong roti” ucap anak miskin tadi, sambil menatap ke arah Zaka dan Zaki.


Plezetan Original

Label:

Murid Kreatif (Take from Malau)

Di sebuah sekolah dasar, suatu saat seorang guru bertanya pada muridnya Udin.

Bu Guru : “Hei Udin tolong jawab pertanyaan ibu yah… Kalo ada 5 ekor burung di jendela, kemudian ditembak satu, berapa yang masih tertinggal?”

Udin : “Habis dong Bu, kan lainnya pada terbang.”

Bu Guru : “Salah, harusnya dijawab masih tinggal 4 ekor, tapi saya seneng kok cara kamu berpikir…..”

Di saat yang lain Udin balik bertanya pada Bu Guru.

Udin : “Bu Guru tolong jawab pertanyaan saya… Kalo ada tiga orang cewek, masing-masing membawa es krim, cewek pertama makan es krim dengan menggenggam contongnya, yang kedua dengan menjilati es krim tersebut, yang ketiga langsung mengulumnya, manakah di antara cewek itu yang sudah menikah?”

Bu Guru : “Haaahhhh….. pasti yang makannya dengan mengulum langsung yaaaa…”

Udin : “Salah…..harusnya dijawab yang sudah pake cincin kawin, tapi saya senang melihat cara berpikir Bu Guru…”

· · · · · · · · · ·

Label:

Bu Tika V.S Tukang becak (original)

Pagi seperti biasannya bu Tika selalu berbelanja kepasar untuk keperluan dagangannya, bu Tika ini ceritanya seorang pedagang lontong, kebetulan pagi itu belanjaan ibu Tika agak banyak dari biasannya itu karna ada pesanan dari seseorang yang mengadakan acara selamatan.

Jadi pagi itu bu Tika menenteng lumayan agak banyak belanjaannya dari biasannya, “huh capek juga bawa barang sebanyak ini, apa saya naik becak aja” bu Tika sambil bergumam sendiri.

“ya sudah saya naik becak saja”, bu Tika celangak – celongok sedang mencari becak, tidak berapa lama lewat becak di depan bu Tika, “becak… becak…sini” bu Tika mendekati becak yang sudah berhenti di depannya.

“Tuh kedepan sana berapa pak” bu Tika menunjuk ke arah jalan pulang menuju rumahnya yang memang tidak terlalu jauh lagi, bisannya sih bu Tika pulang dengan jalan kaki, yah itu tadi penyebabnya karna barang bawaannya agak banyak pagi itu, yah terpaksa menggunakan jasa tukang becak.

“ke sana bu?” Tukang becak itu menanyakan, juga sambil menunjuk ke arah yang juga ditunjuk oleh bu Tika, “iye…kesana berapa?”, “5 ribu bu” tukang becak itu menjawab pertanyaan bu Tika, “kenapa kok mahal amat, itu dekat juga khan kelihatan dari sini” bu Tika sambil ngomel – ngomel kepada tukang becak tadi.

“ibu…ibu,…itu ibu liat ke atas” , Tukang becak tadi menunjuk ke arah langit, lalu bu tika melihat ke arah langit, “Memangnya kenapa?” bu Tika menanyakan kepada Tukang becak tadi.

“nah coba ibu liat Matahari di atas, khan juga kelihatan dari sini, nah kesana nga cukup 5 ribu bu…” , “bener juga yah kata kamu itu….., ya sudah ga papa 5 ribu deh” bu Tika menyudahi omongannya. dan kemenangan pun berada di tangan Paman Becak. (Cayoo Paman becak)

Plezetan Original

Label:

Senin, 12 Januari 2009

Taksi Ke neraka (original)

Siang itu, Arul (pemabuk yang sering mangkal di Sentral antasari) sedang asik mabuk dengan teman-temannya, kira-kira sudah empat jam mereka duduk bergerombol meminum minuman keras.

Saat itu hari sudah menunjukan pukul lima sore, “ waduh wal sudah sore nie aku mau pulang aja” ucap Arul kepada teman-temannya. “ya sudah kalo mau pulang,pulang aja, asal jangan Kentut wahahahaha” ucap teman-teman sambil menertawakan Arul.

Arul langsung saja berdiri dan berjalan sempoyongan untuk menyambang Taksi yang akan lewat, tak lama kemudian setelah beberapa menit menunggu ada taksi yang lewat “ada taksi nie, tapi aku mau cari yang nomer Taksinya yang ganjil semua” Arul rupanya sedang mabuk berat, sampai-sampai taksi yang bernomer ganjil saja yang ingin di tumpanginya.

“124 wah bukan” , “324 bukan juga”. Setelah beberapa taksi yang lewat, “135 nah ini nah taksi yang mantap”, Rupanya Arul sudah mendapatkan taksi yang dia anggap cocok untuk membawanya pulang ke Alalak.

Setelah memasuki taksi tersebut, “nah bener kan filling gue, taksi bernomer ganjil pasti ceweknya cakep cakep cakep” sambil menirukan salah satu adegan iklan salah satu provaider telpon seluler. “tapi kecuali satu nie, udah uzur” ucap Arul dengan samaunya.

“Cucu kamu ini mau keneraka yah!” ucap nenek gusar melihat tingkah laku Arul, “Bukan nek Aq mau ke alalak” Sambil melihat arah tujuan Taksi tersebut, “Pak pak Stop pak” Arul berusaha Memberhentikan Taksi tersebut.

“Aduh untung saja aku cepat keluar dari taksi itu” Ucap Arul sambil mengusap usap dadanya.

“Ternyata hanya penampilan Nenek itu aja yang Alim ternyata mau masuk neraka” Ucap Arul sambil Melihat ke arah Taksi tersebut.

Plezetan original.

Label:

Minggu, 11 Januari 2009

Nenek yang malang (original)

Di rumah keluarga Hartawan, Nenek Widya tidak terlalu diperhatikan, Hanya salah seorang cucunya yang sangat memerhatikannya. Nama cucunya itu adalah Ihkwan, walaupun ikhwan agak bodoh tapi dia sangat menyayangi neneknya itu.

Nenek widya adalah seorang yang kaya raya, namun sikapnya tegas kepada siapa saja termasuk pada cucunya, mungkin itu juga yang menyebabkan banyak anak cucunya tidak terlalu memerhatikan keadaanya.

Suatu pagi dirumah keluarga Hartawan ada kejadian yang sangat mengejutkan, pagi itu sang nenek terkapar jatuh kelantai ntah kenapa. Tapi itu mungkin juga karna faktor usia nenek widya yang sudah kepala tujuh.

Tidak berapa lama nenek langsung dibawa kerumah sakit dengan mobilnya yang sangat mewah…, Ikhwan dari tadi selalu memegangi tangan nenek. “Nenek jangan mati ne….nenek jangan mati ne” berulang kali ikhwan mengucapkannya, namun nenek masih terpejam…..

Setelah tiba dirumah sakit para perawat langsung menyambut sang nenek. Dan Nenek Widya pun langsung dipakaikan selang infus untuk membantu Nenek bernafas.

Setelah dua hari berada dirumah sakit, nenek mulai menunjukan adanya kemajuan, nenek sudah dapat membuka matanya, dan Ikhwan pun merasa sangat senang. Tepat pada hari itu juga, Ikhwan berusaha untuk berkomunikasi dengan sang nenek, karna hanya dengan ikhwanlah Nenek mau bicara ketimbang cucu-cucu lainnya yang hanya ingin warisannya saja.

Saat itu ikhwan berusaha mendekati Nenek tempat tidur sang nenek dengan cara mengangkat bangkunya mendekat ketempat tidur Nenek yang sedang terbaring, nenek pun sudah bisa mengerakkan tangannya sesekali membelai kepala Ikhwan.

Namun tiba-tiba nenek mengalami sesak nafas, Karna Ikhwan merupakan anak yang bodoh dia hanya duduk kebingungan melihat neneknya sesak nafas….., Nenek langsung mengambil secarik kertas yang ada di atas meja yang berada disamping tempat tidurnya.

Ikhwan pun bertanya dalam hatinya “Apakah Nenek mau memberikan seluruh warisannya kepadaku dengan menulis surat wasiat kepadaku” ,

Setelah menerima surat itu ikhwan langsung mengantongi secarik kertas tadi, tidak berapa lama si Nenek langsung meninggal dunia……, Ikhwan pun merasa sangat sedih atas meniggalnya Nenek kesayangannya itu…..

Setelah Selesai prosesi pemakaman Nenek Widya, Ikhwan pun teringat atas surat wasiat yang diberikan Nenek kepadanya….. .

Alangkah terkejutnya Ikhwan Membaca surat itu yang isinya ternyata !!!!!!!!!!!!!!

“Cucu tolong jangan di injak selang infusnya Nenek tidak dapat bernafas”

Itulah isi surat tersebut…………………………., Alangkah Malangnya nasib Nenek Widya.


Plezetan Original

Label: