Sabtu, 10 Januari 2009

MISTERI UANG HILANG (plezetan version)

MISTERI UANG HILANG

Dari kejauhan Difo berlari seperti pencopet yang dikejar banci. Hari ini dia terlambat, padahal dia harus memimpin kami dalam olahraga. Difo adalah ketua kelas XII IPA 1 ketua..nga pantas karna dia kan bego..., sebelum bapak Masdar menyampaikan materi olahraga, terlebih dahulu ketua kelas harus memimpin anak buahnya olahraga pemanasan atau pengomporan istilahnya.

“ Ha…h, maaf aku terlambat hari ini kawan-kawan,” ucap Difo kepada kami semua.

“ Dasar goblok Fo fo...,untung bapak Masdarnya hari ini lagi rapat sama ibu rita (yang biasa disapa Burit), jadi kita hari ini olahraga babas ,” sahutku untuk dengan wajah yang tolol.

“ Benarkah ? kalau tahu begini lebih baik aku santai saja tadi di rumah sambil cuci piring n masak,” sesal Difo.

Seperti biasa, kalau bapak Masdar tidak bisa mengajar, kami para lelaki bermain lompat tali sedangkan perempuannya bermain sepak bola. Sebenarnya ada juga yang mau bermain basket, tapi berhubung lapangan basketnya kami pakai untuk bermain lompat Tali, dengan sangat terpaksa mereka yang ingin bermain basket harus mengalah.....hehehehehe

Hampir satu jam lebih sudah kami berolahraga, kini kami harus menyiapkan diri untuk pelajaran selanjutnya. Kamipun bergegas menuju kelas untuk berganti pakaian. Tiba-tiba kami semua terkejut melihat pintu kelas kami yang terbuka lebar....Emang sih nga sepantasnya kami kaget itu kan cuman hal biasa...bego nga gue...

“ Fo, kenapa kelas kamu biarkan terbuka ? kamu lupa menguncinya yah ? padahalkan banyak barang berharga dalam kelas kita,” (padahal dikatakan berharga juga nga sih soalnya barang barang yang kami punya pada murah semua alias tungging product alias kelas bawah alias apadeh gitu namanya pokoknya nga banget...) tanya Rina yang ada di sampingku penuh emosi.

“ Sabar sayang,” sahutku sambil mengelus pundaknya.(dalam hati aq bicara kesempatan.. kesempatan)

“ Iya nih Joe, pacar kamu ini pemarah sekali. Tadi ada Dewi yang tidak ikut olahraga, jadi dia tinggal di kelas saja. Mana mungkinkan aku mengunci Dewi di kelas sendirian,” terang Difo.(aq pura pura sedang berfikir, padahalkan aq orangnya nga bisa berfikir)

Kamipun melihat keadaan kelas masih rapi, tapi Dewi tidak ada di dalam kelas. Rasa cemas dan khawatirpun timbul dalam diri kami, kalau benda berharga yang kami miliki hilang, seperti bando, bedak atau uang saku yang telah diberikan orang tua kami(aq nga terlalu khawatir juga sih soalnya di celana ku yang kutaruh di dalam kelas cuman ada uang 1000 aja, tapi aq sok sokan aja punya uang banyak ). Para perempuan terlebih dahulu masuk kelas untuk berganti pakaian. Sementara kami, para lelaki harus menunggu giliran di luar sambil mengintip sesekali kedalam kelas. “ A…..,” tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari dalam kelas kami.

“ Uangku hilang ,“ suara Wiwi terdengar dari dalam kelas.( Ya iyalah dari dalam kelas masa dari luar )

Mendengar teriakkan itu, Difo langsung memasuki kelas (sok sokan jadi pahlawan). Aku dan teman-taman lainnyapun juga mengikuti Difo (sama gaya ku juga kya pahlawan gitu). Sial semua perempuan di kelasku sudah selesai berganti pakaian, kalau belum pasti Aku akan mengambil kesempatan seperti ini.

“ Apa yang hilang ? “ Tanya Difo kepada Wiwi.

“ Uangku hilang,” ucap Wiwi sambil mencari-cari uangnya kembali.

“ Coba cari sekali lagi, mungkin kamu lupa menaruhnya,” Difo masih tidak percaya dengan hilangnya uang Wiwi.

“ Sudah kucari hampir Sepuluh kali, tapi tetap tidak ada. “Difo Coba cari sebelas kali pasti bakal ketemu. Aku masih ingat, tadi aku menaruh uangnya di dalam dompetku ini. Kalau tidak percaya, tanya Lilis. Lilis tadi menyaksikanku memasukkan uangnya ke dalam dompet ini,” Wiwi menjelaskan kepada Difo dengan wajah sedih.( alah paling uangnya cuman 2000)

“ Aduh….., kemana sih Dewi ? kenapa kelas dibiarkan terbuka seperti ini ? Edwin tolong cari Dewi, biar aku damprat anak itu,” Difo tampak marah sekali.( aduh gaya marahnya itu lo nga cocok banget, padahal kan dia banci)

Sebagai seorang ketua kelas,Difo merasa sangat bersalah atas hilangnya uang Wiwi. Maklum saja kelas kami tidak pernah mengalami kehilangan seperti ini.( maling mana yang lebih miskin dari kami) Hampir sepuluh menit Edwin dan Dewi akhirnya datang ke kelas.( dengan lenggak lenggok bak peragawati)

“ Dewi, kenapa kelas kamu tinggalkan dalam keadaan terbuka,” tanya Difo dengan penuh emosi.

“ Ada apa sich marah-marah (dengan nada english khas cinta laura) ? kan aku ticak tahu gembok kelas dimana, jadi aku biarkan kelas cerbuka karena aku mau ke UKS meminca obat,” sahut Dewi dengan nada kesal.

“ Uang Wiwi hilang, gara-gara kamu tidak mengunci kelas. Apa susahnya sih bertanya sebentar denganku dimana gembok kelas,” balas Difo dengan nada tinggi.( sakin tingginya udah kaya once dewa yang lagi menyanyikan lagu dengan nada tinggi) wakakakakak

“ sebenarnya aku ingin bertanya, tapi aku tidak sanggup berjalan menuju lapangan. Aku sakit Fo,” suara Dewi sedikit melemah.

“ Alasan tipis kaya kaya kue lapis , jangan-jangan kamu tidak ikut olahraga karena lupa membawa pakaian Dalam, terus kamu curi uangnya Wiwi,” tuduh Difo.( dengan wajah yang sedikt sinis khas perempuan)

“ Eh…, kalau punya mulut dijaga dong, aku memang tidak membawa pakaian Dalam karena aku tidak bisa ikut olahraga hari ini. Aku mampu membeli pesawat, mobil, becak apa saja tanpa harus mengambil uangnya Wiwi,” sahut Dewi dengan esmosi.

Dewipun menuju tempat duduknya, sementara Difo kelihatan pusing sekali dengan terjadinya masalah ini. Edwin selaku wakil ketua kelas juga tampak pusing dan dia mencoba membantu Difo mencari solusi. Seandainya saja bukan uang yang hilang tetapi barang seperti Hp pasti akan mudah ditemukan karena pemiliknya akan mudah mengenali ciri-ciri barangnya itu. Sedangkan uang, siapa saja bisa mengaku bahwa itu uangnya walaupun dia mencuri karena pemilik uang biasanya jarang menghapal ciri-ciri uangnya.( Kalo aq sih biasanya menulisi uangt tersebut dengan nama q ,soalnya aq juga takut kehil;angan) Jadi melaporkan ke wali kelas pasti akan sia-sia dan akan mencoreng nama kelas kami, yang selama ini sudah tercemar.

Tepat setelah Ibu Herni yang montok menyudahi persekolahan hari ini dan keluar kelas, Difo langsung mengambil alih kendali kelas dan berdiri di atas meja menghadap ke depan kami. Mukanya seperti orang yang baru saja diPHK dari pekerjaannya.(tapi itu udah memang muka dia jelak dari lahir) Kami semua di kelas sudah tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan Difo. Sebelum menyampaikan solusi terakhirnya, Difo menatap wajah Wiwi yang frustasi seakan Wiwi tidak yakin solusi yang disampaikan Difo nantinya dapat mengembalikan uangnya. (yang saya kira cuman 2000 saja)

“ Hari ini adalah hari terburuk dalam kelas kita. Baru kali ini kelas kita mendapat masalah kehilangan uang, karna biasanya kami hanya kehilangan celana dalam sama BH doang. ini, Aku sebagai seorang ketua kelas, akan bertanggungjawab penuh atas hilangnya uang Wiwi. Aku akan mengganti uang Wiwi yang hilang dengan syarat, kita yang ada di dalam kelas ini terlebih dahulu harus meminum air yang diberikan olek kakek Mursidah besok,” Difo menyampaikan solusi terakhirnya.( AQ berfikir kali aja difo ngasih minum air kencingnya ke kami, bisa berabe tuh)

“ Maksudnya lo bagaimana Fo ?” Tanya Wiwi yang tampak lega dengan solusi yang disampaikan Difo.

“ Begini, aku tadi sudah bicara dengan Mursidah, ternyata kakeknya adalah seorang Mbah Dukun.(kaya mama loren gitu) Nah, Mursidah akan memintakan air yang sudah dijampi-jampi oleh kakeknya yang kemudian akan kita minum besok. Air tersebut akan menyiksa orang yang mengambil uang milik Wiwi. Setelah kita semua minum air tersebut, baru aku akan mengganti uang milik Wiwi,” Difo menjelaskan panjang lebar maksud dari solusinya tersebut.( alah omong kosong)

Mendengar penjelasan Difo, keadaan kelas menjadi tegang. Kami semua memeriksa tas, celana, rok,celana dalam, bh, rambut dan tempat-tempat yang bisa diselipkan oleh tersangka, sehingga di antara kami nanti menjadi tersangka utama. Kulihat Dewi sama sekali tidak melakukan seperti apa yang kami lakukan dia hanya memutar matanya kekiri dan kekanan. Kami merasa aneh dengan tingkah laku Dewi yang tampak tenang kaya air yang mengalir, tetapi raut wajahnya menunjukkan rasa takut yang luar biasa. kaya meliat pocong nga pake kain kafan Setelah kami selesai memeriksa, kamipun pulang dengan perasaan was-was menunggu hari esok tiba.

Keesokkan harinya, tepat pukul tujuh aku tiba di sekolah. Kulihat dari kejauhan di depan kelasku sudah banyak teman-teman datang. Tumben sekali teman-teman datang sepagi ini, padahal mereka sering datang terlambat ke sekolah. Tapi mereka masih berada di luar kelas, itu menandakan Difo belum datang, karena kunci kelas hanya ada di tangan Difo.( Difo si kuncen )

Aku dan teman-teman semua sudah tidak sabar menunggu kedatangan Difo. Kami ingin tahu siapa pencuri uang Wiwi sebenarnya. Dewi yang dari kemarin menjadi tersangka utama, wajahnya kelihatan pucat. Mungkin karena penyakitnya yang belum sembuh atau ada hal lain yang membuatnya pucat. Tiba-tiba Wira berteriak memecah kecemasan kami semua.

“ Lihat, Difo bego datang,” teriak Wira sambil menunjuk ke arah kanan kelas kami.

Difo berjalan bersama Mursidah yang membawa dua botol Coca-cola yang berisi satu liter tiap botolnya. Difo tampak santai dan sesekali dia tersenyum kepada kami semua. Difo seolah sudah mengetahui siapa pencuri sebenarnya. Setelah Difo membuka kelas, kamipun masuk dan duduk di tempat masing-masing.

“ U….uangnya kembali Bahkan ditamahi lagi,” teriak Wiwi kegirangan.

Kami semua terkejut, Wiwi berteriak seperti itu. Kamipun mengerumuni Wiwi. Memang benar ada uang di atas kursi Wiwi.

“ Tenang, tenang, kawan-kawan mohon kembali ke tempat duduknya masing-masing,” ucap Difo untuk menenangkan kelas yang menjadi ribut.

Kami semua bingung, sedangkan Difo seperti sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Kamipun duduk kembali ke tempat masing-masing untuk mendengarkan penjelasan dari Difo.

“ Sudah kuduga sebelumnya hal ini akan terjadi. Apa kalian tidak curiga mengapa jendela kelas kita terbuka sebelum aku datang,” Difo menunjuk kearah jendela.

Kami baru sadar bahwa jendela kelas kami dibiarkan terbuka. Tapi kami masih belum paham maksud dari penjelasan Difo. Kemudian Difo kembali menjelaskan kepada kami maksud dari ini semua.

“ Pertama aku ingin minta maaf dulu kepada kalian semua karena sebenarnya apa yang kukatakan kemarin semuanya bohong. Kakek Mursidah bukan Mbah dukun, air inipun hanya Coca-cola biasa tidak bisa menyiksa. Aku hanya ingin menakuti pencuri uang Wiwi agar mengembalikan uangnya hari ini. Aku juga tidak menyangka bahwa strategi ini akan berhasil. Tapi yang jelas, uang Wiwi telah kembali dan itu berarti aku tidak jadi menggantinya,” Difo akhirnya lega dan bisa tertawa karena tidak jadi mengganti uang Wiwi.

Kelaspun kembali ramai kaya orang lagi jual tapai, tidak ada ketegangan lagi. Semua telah berakhir dengan kebahagiaan happly ever after. Tapi hanya satu yang masih mengganjal dalam pikiranku dan mungkin pikiran kawan-kawanku semua yaitu bahwa pencuri uang Wiwi memang berasal dari dalam kelas kami juga, tapi mereka tak tahu siapa pencuri sebenarnya. Hanya Allah dan aq yang tahu itu semua.

Cerita yang asli dapat diaskes di : suara pelangi

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda